Skip to content
Kolom
Beranda/Kolom/Merebut Ruang, Membangun Narasi: Agensi Muslimah di Ruang Siber 

Merebut Ruang, Membangun Narasi: Agensi Muslimah di Ruang Siber 

30 Kali Dibaca
Bagikan:
Merebut Ruang, Membangun Narasi: Agensi Muslimah di Ruang Siber 

Ringkasan Merebut Ruang, Membangun Narasi: Agensi Muslimah di Ruang Siber 

Artikel ini mengulas peran strategis perempuan muslim dalam ruang digital pasca-reformasi. Meski menghadapi tantangan berupa stereotip dan islamofobia global, muslimah kini bertransformasi menjadi aktor penting dalam narasi Islam modern. Melalui platform media sosial, mereka berupaya mendefinisikan ulang identitas keislaman di tengah arus teknologi informasi yang semakin masif dan dinamis.

Tsaqafah.id – Pasca pemerintahan Soeharto, keran demokrasi di Indonesia mengalirkan kebebasan dengan deras. Kebebasan ini juga diikuti dengan semakin menguatkan ekspresi Islam di ruang publik. Selain tumbuhnya organisasi keislaman maupun partai politik Islam, ideologi-ideologi Islam juga menyebar cukup masif.

Hingga awal abad 21, ekspresi Islam di ruang publik semakin menguat. Hal ini juga diikuti oleh perkembangan teknologi informasi yang semakin maju. Kita bisa menjumpai Islam dan praktiknya tidak hanya dalam bilik-bilik tempat ibadah, tetapi juga dalam dunia maya atau digital.

Bertindak sebagai aktor atau bahkan target pasar, perempuan menjadi bagian penting dalam proses digitalisasi Islam. Pusat pasar Islam global, seperti Amerika Serikat, Kanada, Indonesia, Kuwait, Dubai, Belanda, dan Inggris, perempuan muslim hadir dalam berbagai platform media sosial baik sebagai blogger serta influencer atau sebagai pemasar produk muslim lifestyle.

Baca juga Jihad Digital: Mengapa Santri Butuh Ngaji Sekaligus Literasi Media?

Namun. Perkembangan ini bukan berarti tanpa hambatan dan tantangan. Paca peristiwa 9/11 di Amerika, muslim menghadapi berbagai stereotip tentang Islam yang digambarkan sebagai kelompok asing dan keras dan sejumlah narasi islamophobia maupun stereotip.

Perempuan Muslim di Tengah Stereotip

Dalam hal ini, perempuan juga tidak luput masuk dalam konstruksi stereotip. Peran perempuan direduksi dalam simbol-simbol keagamaan seperti hijab dan pakaian yang dikenakan. Perempuan menghadapi sejumlah tantangan: hijab dan keterbatasan, tidak berhijab berarti tidak islami atau dikomentari cara berhijabnya tidak sesuai dengan standar. 

Hijab atau jilbab seolah tidak menemui ujung pembahasannya. Persoalan perempuan seolah-olah hanya berputar dalam konstruksi ini. Akibatnya, perempuan Muslim tidak hanya menghadapi persoalan diskriminasi berbasis agama, tetapi juga konstruksi identitas yang dibentuk oleh perspektif gender. Tak jarang, komentar ini justru lahir dari sesama perempuan sendiri. 

Baca juga Dikenal Luas Tak Menjamin Kefasihan Seseorang 

Hadirnya Islam di ruang digital seharusnya tidak membuat perempuan terjebak dalam sejumlah konstruksi identitas. Media digital bisa menjadi medan perempuan dalam negosiasi ulang identitas yang telah disematkan kepadanya sekaligus untuk membangun identitas dirinya.

Platform digital seperti blog, YouTube, Instagram, hingga TikTok, bisa menjadi ruang bagi perempuan Muslim untuk menyampaikan pengalaman, gagasan, dan perspektif keagamaannya secara lebih luas. 

Perempuan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada media arus utama dalam mendefinisikan identitasnya. Sebaliknya, mereka dapat memproduksi narasi yang menghadirkan gambaran lebih beragam tentang kehidupan perempuan Muslim. 

Dari Konsumen Informasi Menjadi Agen Literasi 

Potensi ruang digital sangat luas, tentu tidak terbatas untuk membangun ulang atau merebut kembali ruang identitas. Ruang digital menjadi tempat penyebaran disinformasi, propaganda, dan narasi keagamaan yang belum jelas konteksnya. Potongan informasi berupa desain atau video mewarnai ruang digital kita yang seringnya berdampak pada pengambilan keputusan atau kesimpulan terlalu cepat.

Oleh sebab itu, perempuan Muslim perlu mengambil peran lebih jauh, bukan sekadar menjadi konsumen informasi,tetapi juga menjadi agen literasi yang mampu memproduksi, memverifikasi, dan menyebarkan pengetahuan secara bertanggung jawab.

Peran perempuan di ruang digital semakin penting ketika isu-isu seputar geopolitik mewarna beranda ruang digital masyarakat Indonesia. Isu-isu seperti persoalan Palestina, konflik Iran dan Amerika, serta sejumlah konflik yang melibatkan negara Muslim lainnya.

Baca juga Membaca Peringatan Maulid Nabi Era Salahuddin al-Ayyubi Melalui Lensa Tafsir Tematik Sosial

Selain persoalan internasional, persoalan dalam negeri juga tidak kalah pentingnya; konflik horizontal antar umat beragama, penolakan ruang ibadah, keracunan MBG, karhutla, demonstrasi dan sejumlah persoalan lainnya.

Jika perempuan tidak mengambil perannya dalam ruang digital, maka potongan informasi ini bisa berdampak pada disinformasi dan ujaran kebencian.

Ruang Digital dan Pembentukan Solidaritas

Ruang digital bisa menjadi ruang untuk membangun solidaritas. Di Nepal, Dipasa Bista, seorang korban siber melakukan kampanye daring seperti #NotAnyMore. Kampanye ini dilakukan untuk memberikan dukungan serta ruang aman kepada korban lainnya agar berani bercerita dan bersuara.

Di India, melalui kampanye #MyPromise, Body and Data sebuah organisasi di Kathmandu, memberikan edukasi dan meningkatkan kesadaran tentang identitas seksual dan gender. Kampanye ini mendapat perhatian luas dari kelompok pemuda. 

Di Indonesia, melalui platform media sosial, komunitas Ibu-Ibu Berisik di Yogyakarta menggalang kekuatan untuk menyuarakan berbagai persoalan seperti, keracunan MBG, pajak terhadap pembalut, naiknya harga bahan pokok, dan mengkritik pemerintah yang dinilai lamban dalam menghadapi sejumlah permasalahan di Indonesia. Menariknya Ibu-Ibu ini melakukan unjuk rasa dengan memukul panci.

Ruang Digital rasanya terlalu sempit jika hanya digunakan untuk mengomentari penampilan perempuan atau hanya digunakan untuk memasarkan produk-produk keislaman. Perempuan bisa menjadi agen literasi digital yang tidak hanya sebagai objek atau target pasar, tapi ia bisa membangun identitasnya, menyuarakan ketidakadilan, hingga membangun kekuatan solidaritas.

Pertanyaan Seputar Topik Ini

Apa peran perempuan muslim dalam digitalisasi Islam? ▾
Perempuan muslim berperan sebagai aktor aktif, blogger, influencer, hingga pemasar produk gaya hidup muslim yang membentuk wajah Islam di ruang digital global.
Bagaimana tantangan muslimah di ruang siber? ▾
Tantangan utama meliputi konstruksi stereotip negatif, narasi islamofobia, serta reduksi peran perempuan yang sering kali hanya dikaitkan dengan simbol keagamaan tertentu.
Mengapa agensi muslimah penting di media sosial? ▾
Agensi muslimah penting untuk merebut ruang narasi, melawan stigma negatif, dan menunjukkan keberagaman ekspresi Islam yang inklusif di dunia maya.

Dukung Kanal Suara Muslim Muda

Suka dengan konten kami? Dukung terus Tsaqafah.id untuk memproduksi konten literasi Muslim yang mencerahkan.

Mulai Berdonasi
Bagikan Artikel Ini