Skip to content
Kolom
Beranda/Kolom/Dikenal Luas Tak Menjamin Kefasihan Seseorang 

Dikenal Luas Tak Menjamin Kefasihan Seseorang 

4 Kali Dibaca
Bagikan:
Dikenal Luas Tak Menjamin Kefasihan Seseorang 

Ringkasan Dikenal Luas Tak Menjamin Kefasihan Seseorang 

Artikel ini mengulas bagaimana algoritma media sosial dan konsumsi video pendek memengaruhi daya kognitif pengguna. Riset menunjukkan bahwa konten yang memicu emosi lebih mudah viral, sementara kebiasaan berpindah tayangan secara cepat berisiko menurunkan kemampuan fokus dan kedalaman pemahaman informasi. Penting bagi kita untuk lebih kritis dalam menyerap konten di ruang digital.

Tsaqafah.id – Setiap kali membuka ponsel, kita berpindah dari perdebatan politik ke resep masakan, lalu ke potongan ceramah agama dalam hitungan detik. Informasi terasa dekat dan mudah diakses. Namun, pernahkah kita bertanya apakah kita benar-benar memahami yang baru ditonton, atau hanya melewatinya sebelum beralih ke tayangan berikutnya?

Ruang digital bukan ruang yang sepenuhnya netral. Sistem algoritma ikut menentukan konten yang muncul berdasarkan berbagai sinyal, termasuk klik, komentar, dan tanda suka. 

Penelitian Milli dan tim peneliti-nya (2025) menemukan bahwa sistem pemeringkatan berbasis keterlibatan di Twitter memperbesar visibilitas konten politik yang emosional dan bermusuhan terhadap kelompok lain dibandingkan linimasa kronologis. Temuan ini tidak berlaku otomatis untuk semua platform, tetapi menunjukkan bahwa konten yang banyak memancing reaksi bisa lebih terlihat tanpa harus lebih benar.

Baca juga Membaca Peringatan Maulid Nabi Era Salahuddin al-Ayyubi Melalui Lensa Tafsir Tematik Sosial

Kebiasaan berpindah cepat dari satu tayangan ke tayangan lain juga patut diperhatikan. Tinjauan sistematis dan meta-analisis Nguyen dan kolega (2025), yang merangkum 71 studi dengan 98.299 partisipan, menemukan hubungan antara penggunaan video pendek yang lebih tinggi dan hasil kognitif yang lebih buruk, terutama terkait perhatian dan kemampuan menahan respons otomatis. 

Penelitian itu tidak membuktikan bahwa video pendek langsung menghilangkan daya pikir kritis. Namun, temuan tersebut mengingatkan kita akan risiko ketika konsumsi cepat menggantikan kebiasaan berhenti, memahami, dan merenungkan informasi.

Daya pikir kritis tidak hilang dalam semalam. Ia dapat terkikis ketika kita semakin jarang menggunakannya. Kita tidak memeriksa siapa sumber suatu klaim, apa buktinya, bagian mana yang mungkin terpotong, atau apakah ada penjelasan lain. 

Baca juga Eudaimonia hingga Kawruh Jiwa: Benang Merah Makna Kebahagiaan

Rasa kagum, marah, atau kesepakatan dengan kelompok sendiri lebih dulu menentukan sikap, sementara pemeriksaan datang belakangan. Berpikir kritis berarti menunda penilaian, menguji alasan, memahami konteks, dan bersedia mengubah pandangan ketika bukti mengharuskannya.

Kebiasaan ini turut memengaruhi cara kita menentukan siapa yang layak dipercaya. Bartsch dan kolega (2025) mengajak kita membedakan kemampuan nyata seseorang dari pengakuan sosial yang diterimanya. Di media sosial, jumlah pengikut, komentar positif, dan gaya bicara yang meyakinkan dapat membuat seseorang tampak ahli. 

Padahal, dikenal luas tidak selalu berarti menguasai bidang yang dibicarakan. Di sinilah krisis otoritas di ruang digital berkaitan erat dengan melemahnya literasi kritis. Kita semakin mudah mempercayai seseorang karena popularitasnya, tetapi semakin jarang memeriksa kompetensinya maupun alasan di balik keyakinan kita sendiri.

Fenomena ini terlihat dalam perkembangan dakwah digital di Indonesia. 

Baca juga Menggugat Alibi Stunting dalam Makan Bergizi Gratis

Febrian (2024) menganalisis 9.801 unggahan dari tiga pemengaruh agama Islam di Instagram dan membahas bagaimana tampilan visual yang dekat serta gaya komunikasi yang ramah dan informal membangun kesan otoritas. 

Penelitian itu tidak membuktikan bahwa para figur tersebut kurang berilmu. Ia menunjukkan bahwa cara seseorang menampilkan diri dapat memengaruhi kesan audiens, sedangkan kompetensi keilmuan perlu dinilai dengan dasar yang berbeda.

Menjadi pendakwah muda, berpenampilan menarik, atau berbicara dengan bahasa populer bukanlah kesalahan. Kita membutuhkan orang yang mampu menyampaikan ilmu secara jernih dan dekat dengan kehidupan generasi muda. 

Masalah muncul ketika daya tarik dan popularitas dianggap cukup untuk menjamin isi ceramah. Kemampuan memikat perhatian berbeda dari kemampuan menjelaskan dalil, memahami konteks, dan mempertanggungjawabkan kesimpulan.

Baca juga Menghidupkan Soemitro, Prabowonomics dalam Tantangan Industrialisasi

Sebagai generasi yang tumbuh di tengah derasnya arus media sosial, kita juga perlu menyadari peran diri sendiri. Perhatian terhadap figur digital turut tumbuh melalui tindakan kita, mulai dari mengikuti, menyukai, mengomentari, hingga membagikan konten mereka. 

Kita bisa saja mempercayai potongan ceramah karena penyampaiannya menyentuh hati atau pendapatnya sejalan dengan keyakinan kelompok kita. Ketika itu terjadi, kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sudah memeriksa isi dan dasar argumennya, atau justru menerimanya karena merasa cocok dengan apa yang ingin kita dengar?

Al-Qur’an mengingatkan dalam Surah al-Isra’ ayat 36, yang berbunyi:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗاِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰۤىِٕكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔوْلًا 

“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.”

Baca juga Urban Sufism: Mencari Hening di Kota yang Bising

Ayat tersebut mengingatkan kita semua agar kita tidak mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan. Pendengaran, penglihatan, dan hati akan dimintai pertanggungjawabannya. 

Dalam ruang digital, pesan ini mengajak kita tidak membenarkan klaim hanya karena sering muncul atau disetujui banyak orang.

Prinsip tabayyun dalam Surah al-Hujurat ayat 6 juga menuntut kita memeriksa informasi yang kita terima sebelum menyimpulkannya. Prinsip ini seharusnya berlaku bukan hanya ketika informasi datang dari orang yang berbeda pandangan, tetapi juga ketika klaim berasal dari tokoh yang kita kagumi atau kelompok yang kita bela. Informasi yang paling sesuai dengan keyakinan kita pun tetap perlu diperiksa.

Tanggung jawab kita tidak berhenti pada informasi yang diterima, tetapi juga mencakup apa yang kita sebarkan. 

Baca juga Ziswaf jadi Bantal Pengaman di Tengah Ketidakpastian Global

Dalam bagian pendahuluan Sahih Muslim, terdapat hadis yang mengingatkan bahwa seseorang cukup dianggap berdusta ketika menyampaikan segala sesuatu yang didengarnya. Niat menyebarkan kebaikan tidak serta-merta menjadikan informasi yang kita bagikan benar. 

Karena itu, memeriksa sumber, memahami konteks, dan memastikan ketepatan dalil sebelum menekan tombol bagikan merupakan bagian dari tanggung jawab moral kita.

Bersikap kritis bukan berarti mencurigai semua orang atau merasa lebih pintar daripada ulama dan guru yang telah lama mendalami ilmu. Menghormati keahlian tetap penting, tetapi kepercayaan harus didasarkan pada alasan yang jelas. 

Karena itu, kita perlu mempertimbangkan kompetensi seseorang, kekuatan bukti yang disampaikan, kejelasan sumber rujukan, serta kesediaannya mempertanggungjawabkan pendapatnya.

Pada akhirnya, persoalan utama di ruang digital bukan sekadar siapa yang paling sering muncul di layar, melainkan mengapa kita memilih untuk memercayainya. Perhatian yang kita berikan turut menentukan siapa yang memperoleh ruang dan pengakuan. 

Sebagai generasi yang tumbuh bersama media digital, kita perlu membiasakan diri untuk berhenti sejenak, menguji apa yang kita yakini, dan tidak menjadikan ramainya dukungan sebagai ukuran kebenaran. Sebab, menjaga ilmu bukan sekadar mencari informasi, tetapi juga memastikan bahwa kepercayaan kita didasarkan pada alasan dan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Referensi

Bartsch, A., Neuberger, C., Stark, B., Karnowski, V., Maurer, M., Pentzold, C., Quandt, T., Quiring, O., & Schemer, C. (2025). Epistemic authority in the digital public sphere: An integrative conceptual framework and research agenda. Communication Theory, 35(1), 37–50. https://doi.org/10.1093/ct/qtae020

Febrian, H. (2024). Visualizing authority: Rise of the religious influencers on the Instagram. Social Media + Society, 10(4), 1–19. https://doi.org/10.1177/20563051241286850

Kementerian Agama Republik Indonesia. (2019). Al-Qur’an dan terjemahannya. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an. https://quran.kemenag.go.id/

Milli, S., Carroll, M., Wang, Y., Pandey, S., Zhao, S., & Dragan, A. D. (2025). Engagement, user satisfaction, and the amplification of divisive content on social media. PNAS Nexus, 4(3), pgaf062. https://doi.org/10.1093/pnasnexus/pgaf062

Muslim ibn al-Hajjaj. Sahih Muslim, Introduction, Narration 6 (Sahih Muslim 5). https://sunnah.com/muslim/introduction/6

Nguyen, L., Walters, J., Paul, S., Monreal Ijurco, S., Rainey, G. E., Parekh, N., Blair, G., & Darrah, M. (2025). Feeds, feelings, and focus: A systematic review and meta-analysis examining the cognitive and mental health correlates of short-form video use. Psychological Bulletin, 151(9), 1125–1146. https://doi.org/10.1037/bul0000498

Pertanyaan Seputar Topik Ini

Bagaimana algoritma media sosial memengaruhi konten yang kita lihat? ▾
Algoritma cenderung memprioritaskan konten yang memancing reaksi emosional dan keterlibatan tinggi, sehingga konten yang bersifat provokatif sering kali lebih mudah muncul di linimasa dibandingkan konten yang informatif.
Apakah menonton video pendek berbahaya bagi otak? ▾
Penelitian menunjukkan adanya kaitan antara konsumsi video pendek yang berlebihan dengan penurunan kemampuan fokus dan kontrol impuls, yang berdampak pada hasil kognitif jangka panjang.
Mengapa kita sulit memahami informasi secara mendalam di media sosial? ▾
Kebiasaan berpindah tayangan dengan cepat (scrolling) menghambat proses kognitif untuk memproses informasi secara mendalam, sehingga kita cenderung hanya sekadar tahu tanpa benar-benar memahami substansi.

Dukung Kanal Suara Muslim Muda

Suka dengan konten kami? Dukung terus Tsaqafah.id untuk memproduksi konten literasi Muslim yang mencerahkan.

Mulai Berdonasi
Bagikan Artikel Ini
Muhammad Genta Saputra

Ditulis oleh: Muhammad Genta Saputra

Muhammad Genta Saputra adalah mahasiswa aktif Ilmu Hadis di UIN Sunan Ampel Surabaya. Ia kerap mengaitkan isu-isu kontemporer dengan kerangka moral keagamaan, khususnya melalui perspektif hadis. Tulisan-tulisannya telah terbit di berbagai jurnal dan media populer. Baginya, menulis adalah jalan kritis untuk menjaga nurani dan membuka ruang dialog.

Lihat Semua Tulisan