Ringkasan Jalan Boleh Berubah, Idealisme Harus Tetap Bertumbuh
Artikel ini merefleksikan perjalanan seorang santri MAPK Padang Panjang dalam menentukan arah pendidikan tinggi. Penulis menekankan bahwa memilih jalan yang berbeda, seperti beralih dari cita-cita ke Al-Azhar menuju Al-Ahgaff, bukanlah sekadar perbedaan pilihan. Esensi utamanya terletak pada kesungguhan, alasan yang kuat, serta tanggung jawab dalam menjaga idealisme di tengah proses menuntut ilmu.
Tsaqafah.id – Saya masih mengingat masa-masa ketika menjadi santri di MAPK Padang Panjang. Hari-hari saya diisi dengan membaca kitab berbahasa Arab, mempelajari Al-Qur’an, hadis, dan fikih. Di asrama, kami mengulang pelajaran bersama, berdiskusi, bercanda, dan menikmati waktu bersama kawan.
Ketika rasa jenuh datang setelah berhari-hari belajar, berjalan-jalan ke Pasar Padang Panjang menjadi salah satu cara sederhana untuk menyegarkan pikiran. Dari rutinitas itu, saya belajar bahwa menuntut ilmu membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan kedisiplinan.
Sejak awal menjadi santri, kami selalu didorong untuk melanjutkan pendidikan ke Timur Tengah, terutama Universitas Al-Azhar di Mesir. Cita-cita itu sempat tumbuh kuat dalam diri saya. Namun, menjelang akhir masa pendidikan di MAPK, perhatian saya justru beralih ke Universitas Al-Ahgaff di Tarim, Yaman.
Ketika banyak teman mempersiapkan diri menuju Mesir, saya tertarik menempuh jalan yang berbeda. Pendampingan seorang pembina yang merupakan alumnus Al-Ahgaff turut menguatkan niat tersebut.
Baca juga Merebut Ruang, Membangun Narasi: Agensi Muslimah di Ruang Siber
Belakangan saya memahami bahwa sekadar memilih jalan berbeda belum tentu mencerminkan idealisme. Sebuah pilihan baru bermakna ketika ia disertai alasan, kesungguhan, dan tanggung jawab.
Setelah lulus dari MAPK, saya mencoba peruntungan dengan mengikuti seleksi masuk Al-Ahgaff.
Di tengah masa penantian itu, sebuah pintu lain terbuka melalui tawaran beasiswa untuk melanjutkan studi di Program Studi Ilmu Hadis UIN Sunan Ampel Surabaya. Setelah mempertimbangkan ketersediaan beasiswa, mendengarkan nasihat orang tua dan guru, serta memantapkan hati melalui salat istikharah, saya memutuskan berangkat ke Surabaya.
Sehari setelah menginjakkan kaki di tanah Jawa, pengumuman kelulusan dari Al-Ahgaff yang saya tunggu akhirnya datang. Saya dinyatakan lolos. Kabar itu tentu membahagiakan, tetapi kelulusan saja belum menjamin keberangkatan ke Tarim.
Baca juga Jihad Digital: Mengapa Santri Butuh Ngaji Sekaligus Literasi Media?
Bantuan pendanaan yang saya harapkan pun belum memiliki kepastian, sementara upaya untuk mengajukannya membutuhkan proses yang semestinya saya lakukan ketika masih berada di kampung halaman.
Saat pengumuman itu datang, saya sudah berada di Surabaya dan perkuliahan pun segera dimulai. Dengan berbagai pertimbangan tersebut, saya akhirnya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di UIN Sunan Ampel Surabaya dan mengikhlaskan kesempatan yang sebelumnya begitu saya cita-citakan.
Menemukan Makna Baru
Pengalaman tersebut mengubah cara saya memandang idealisme. Memperjuangkan cita-cita tidak selalu berarti mempertahankan satu rencana awal dengan segala cara.
Ada kalanya kita harus menerima perubahan tanpa kehilangan nilai esensial yang ingin diperjuangkan. Saya memang tidak menempuh pendidikan di tempat yang dahulu saya impikan, tetapi kesempatan untuk belajar, berkarya, dan memberi manfaat tidak berhenti di sana.
Dari sanalah saya mulai memahami bahwa Jihad intelektual memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada sekadar mengejar tempat pendidikan yang diimpikan atau mencapai satu target akademik.
Baca juga Dikenal Luas Tak Menjamin Kefasihan Seseorang
Bagi generasi muda, jihad intelektual dapat dimulai dari kesungguhan melawan ketidaktahuan. Surah al-Mujadilah ayat 11 menerangkan kedudukan orang beriman dan berilmu, sedangkan Surah al-Isra’ ayat 36 mengingatkan agar kita tidak mengikuti sesuatu tanpa pengetahuan yang memadai.
Kedua ayat tersebut mengajarkan bahwa idealisme membutuhkan dasar keilmuan yang kukuh. Semangat perubahan yang besar tanpa ditopang pemahaman dapat membawa seseorang pada prasangka, fanatisme, atau kesimpulan yang terburu-buru. Karena itu, belajar bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan, melainkan melatih pikiran untuk bertindak jernih dan bertanggung jawab.
Dari Kelas ke Skena Kepenulisan
Ilmu juga tidak seharusnya berhenti sebagai catatan yang tersimpan di buku atau ingatan pribadi. Pengetahuan perlu diolah menjadi karya yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Saya mencoba menjalani tanggung jawab tersebut melalui penelitian dan kepenulisan. Beberapa karya saya telah terbit di jurnal ilmiah, diantaranya artikel berjudul Dampak Fanatisme Aliran Terhadap Pola Pemikiran Imam Al-Shawkani dan Evolusi Studi Hadis di Yaman Abad 19.
Selain mengkaji pemikiran Imam asy-Syaukani, riset-riset saya juga mengeksplorasi hubungan studi hadis dengan persoalan ekologi, serta menelaah etika sosial Islam dalam menghadapi fenomena cancel culture.
Baca juga Urban Sufism: Mencari Hening di Kota yang Bising
Di samping menulis untuk jurnal ilmiah, saya juga aktif mempresentasikan gagasan di berbagai forum akademik. Pengalaman ini membawa saya meraih Anugerah Emas dan penghargaan Artikel Terbaik dalam seminar antara bangsa pelajar tahun akhir prasiswazah di Malaysia, serta mencetak prestasi pada lomba karya tulis ilmiah hadis di ajang International Islamic Student Competition.
Namun, semua penghargaan tersebut bukanlah ukuran akhir dari sebuah perjalanan intelektual. Nilai terpenting dari keterlibatan dalam riset dan kompetisi adalah kerendahan hati; setiap argumen yang kita bangun harus selalu siap diperiksa, dikritik, dan diperbaiki ketika ditemukan kekeliruan.
Merawat Nalar secara Beradab
Pengalaman menguji gagasan di ruang akademik mengajarkan bahwa perbedaan pandangan perlu dihadapi melalui bukti, argumentasi, dan dialog terbuka. Tidak setiap perbedaan harus berakhir pada kesepakatan, tetapi setiap pihak tetap memiliki tanggung jawab untuk menghormati proses pertukaran gagasan.
Prinsip inilah yang seharusnya menjadi jembatan bagi generasi muda dalam memperjuangkan idealisme di ruang publik. Memiliki pandangan berbeda, mengkritik kebijakan, dan menyuarakan ketidakadilan merupakan bagian dari kehidupan masyarakat yang sehat.
Namun, tujuan yang baik tidak pernah membenarkan setiap cara. Surah an-Nahl ayat 125 mengajarkan pentingnya menyampaikan seruan dengan hikmah, pengajaran yang baik, dan dialog melalui cara terbaik. Ayat ini mengingatkan kita bahwa perbedaan di tengah masyarakat harus dihadapi dengan argumentasi dan tindakan yang bermartabat, bukan dengan intimidasi atau pemaksaan kehendak.
Baca juga Ketika Gaji Dosen Digugat ke MK, Di Mana Tanggung Jawab Negara?
Perjuangan tanpa kekerasan bukan berarti diam ketika menghadapi ketidakadilan. Menulis, meneliti, membuka ruang dialog, dan menyampaikan kritik secara bertanggung jawab merupakan cara nyata untuk mendorong perubahan.
Dalam ruang akademik, kita belajar menguji gagasan tanpa merendahkan martabat orang yang berbeda pendapat. Sikap serupa perlu dibawa ke ruang publik: mempertahankan prinsip tanpa menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk saling membenci. Keteguhan intelektual juga menuntut keberanian untuk mengoreksi diri dan kesediaan mendengarkan argumen yang tidak sejalan dengan keyakinan kita.
Pada akhirnya, perjalanan dari lembaran kitab di asrama MAPK menuju ruang diskursus yang lebih luas mengajarkan saya bahwa ilmu, karya, dan idealisme tidak dapat dipisahkan. Ilmu memberi landasan untuk menilai, karya memperlihatkan bagaimana pengetahuan di wujudkan, sedangkan idealisme menentukan nilai apa yang hendak dituju.
Generasi muda tidak cukup hanya memiliki cita-cita besar atau keberanian tampil berbeda. Kita perlu membekali diri dengan pengetahuan yang kuat, mewujudkannya dalam karya yang bermanfaat, dan memperjuangkannya tanpa kehilangan penghormatan terhadap sesama manusia.
Sebab, jihad intelektual bukan tentang siapa yang paling keras menyuarakan pendapat, melainkan siapa yang paling sungguh-sungguh mencari kebenaran, paling bertanggung jawab menggunakan ilmu, dan paling teguh menjaga kemanusiaan dalam merawat idealismenya.




