Penjelajahan Menelusuri Kota-Kota Mati

Penjelajahan Menelusuri Kota-Kota Mati

10 September 2023
185 dilihat
3 menits, 20 detik

Judul: Berdiri di Kota Mati, Penulis: Maria Fauzi, Penerbit: Gading, Tebal: 224 hlm + iv, Tahun terbit: 2020.

Tsaqafah.id -Perumpamaan buku sebagai jendela dunia rasanya sangat relevan dinisbatkan pada buku-buku perjalanan. Betapa tidak, bersama buku perjalanan, menekuri halaman demi halaman buku bagai berpetualang melintasi batas-batas kontinen, menyimak rupa-rupa cerita, dan saling silang budaya. “Berdiri di Kota Mati” adalah salah satunya. Buku ini mengajak kita menyusuri relung-relung Kairo, tercekat oleh aura kepiluan di kamp konsentrasi Nazi, hingga menekuri detail ornamen sisa-sisa kejayaan Islam di Alhambra.

Tidak berlebihan jika buku ini disebut bukan sekadar buku perjalanan, melainkan penjelajahan. Sebab di tiap langkahnya, Maria Fauzi, penulis buku ini, tidak puas menceritakan apa yang tampak tapi menyelam lebih dalam ke konteks sejarah sembari menarik benang merah terkait ko-eksistensi di balik dinding-dinding masjid, kastil, hingga monumen-monumen bisu.

Kairo adalah titik nol perjalanan buku ini. Di sana pula Maria memasuki cakrawala baru, berjumpa dengan keragaman dari berbagai belahan dunia sebagai muslimah Indonesia. Dari Kairo pembaca diajak melihat bagaimana potret dan praktik keberagamaan muslim tidaklah tunggal. Al-Azhar mempertemukannya dengan warna-warni mazhab dan juga tradisi.

Baca Juga

Judul buku ini diambil dari sepenggal kisah tentang el-Qarafa, The City of Death yang secara literal memang merupakan komplek pemakaman kuno yang sangat luas. Buat saya, kisah ini jadi cerita yang paling membekas tentang Kairo. Orang-orang yang terpinggir akibat pembangunan dan tak mampu menyewa sebidang rumah hidup bersama makam-makam tua yang berumur ratusan tahun di kota itu. Di antara nisan-nisan itu mereka memasak, bercengkrama dengan keluarga dan tidur. Berbekal izin dari keluarga empunya makam, mereka tinggal puluhan tahun di sana dan menjamu peziarah yang layaknya tradisi di Indonesia, ramai berkunjung menjelang Ramadan.

Beranjak dari Kairo, pembaca diajak menjejak Benua Biru. Destinasi pertamanya adalah negeri Panzer, Jerman. Dari teriknya Kairo, makam-makam tua yang kering dan berdebu di el-Qarafa, perjalanan berlanjut ke “Kota Mati” yang lain, yakni Berlin yang dingin. Layaknya el-Qarafa, Berlin memendam kisah atas jutaan nyawa yang hilang dalam waktu singkat. Mereka kebanyakan adalah komunitas Yahudi, Gipsi, kaum homoseksual, serta para penyandang disabilitas yang menjadi korban atas ambisi politik fasis Hitler.

Lain el-Qarafa lain pula Berlin. Stolperstein atau yang berarti batu sandungan berbentuk kubus 10×10 cm yang ditanam di sekitar hunian terakhir korban Nazi, adalah cara Berlin mengakrabi tragedi yang telah diterima sebagai bagian dari kenyataan sejarah mereka.

Baca Juga Meleburkan Sekat Identitas, Menyelami Jalan Panjang Menjadi Manusia

Hari ini, menurut catatan Maria, Jerman berupaya menebus luka di masa lalu dengan bersikap akomodatif, utamanya kepada komunitas Yahudi. Islam di Jerman pun berkembang dengan pesat dari para imigran Turki, Afrika, Arab, hingga para pencari suaka dari negara-negara konflik yang kini banyak berlabuh di Jerman.

Di buku ini Maria mencoba menelaah akar problem integrasi, khususnya kelompok Muslim dengan warga negara Jerman beserta sejumlah tawaran-tawaran yang bisa dilakukan. Dari Jerman ia kemudian melangkahkan kaki ke Prancis, Italia, Spanyol dan sekitarnya untuk berefleksi atas apa yang tersisa dari kemajuan peradaban Islam di masa lalu.

Belakangan, banyak penjelajahan ke Eropa yang dikemas dalam budaya pop baik novel maupun film yang mengusung semangat romantisasi kejayaan Islam bahkan Islamisasi ruang publik. Buku ini, dalam rute yang sama, tak hendak membingkai perjalanan lewat kosmopolitanisme semu macam itu. Ia menawarkan pembacaan yang lebih kepada bagaimana Islam mampu hidup berdampingan dengan kelompok lain.

Dari Masjid Raya Paris misalnya, Maria menemukan rumah ibadah ini pernah menjadi rumah bagi ribuan Yahudi yang berlindung dari teror Holocaust. Dari Mezquita di Cordoba dan Hagia Sophia di Istanbul Maria melihat alih fungsi gereja-masjid atau sebaliknya tanpa mengubah struktur bangunan secara besar-besaran justru menegaskan ada common understanding antara Islam dan Kristen yang berakar dari tradisi Abrahamik.

Baca Juga

Sebagai perempuan, Maria juga tak luput mengisahkan astronomer, penyair, dan perempuan-perempuan bertalenta lainnya yang ia temui sepanjang perjalanannya. Nama-nama yang hampir dilupakan sejarah. Perspektif perempuannya juga menghadirkan gugatan atas pandangan-pandangan yang selama ini mapan, bahwa misalnya dunia Timur dalam sejarahnya justru lebih dulu membuka ruang publik luas bagi perempuan, alih-alih sebaliknya.

Buku ini adalah buku yang sangat kaya, begitu sarat akan informasi. Menambah wawasan dan sudut pandang adalah satu hal yang pasti. Namun, membaca buku ini tanpa pengetahuan awal tentang sejarah dan konteks geopolitik rasanya seperti terjebak pada peta buta. Buku ini mengasumsikan pembaca minimal memahami garis besar sejarah dunia terutama interaksi Barat dan Timur di luar kepala. Saya pribadi banyak menemukan istilah asing sepanjang membaca buku ini yang menarik untuk dikulik lebih lanjut. Penambahan indeks di cetakan berikutnya, tentu akan sangat membantu navigasi pembaca.

Akhirulkalam, buku ini sangat direkomendasikan untuk mereka yang ingin melanglang buana dari tempat duduknya.

Profil Penulis
khalimatunisa
khalimatunisa
Penulis Tsaqafah.id
Alumni CRCS UGM dan PP Al-Munawwir Krapyak, bisa dihubungi di khalimatunisa@gmail.com

18 Artikel

SELENGKAPNYA