Skip to content
Kisah
Beranda/Kisah/Senin Abu Lahab: Ketika Kebahagiaan Menyambut Maulid Berbuah Keringanan

Senin Abu Lahab: Ketika Kebahagiaan Menyambut Maulid Berbuah Keringanan

1 Kali Dibaca
Bagikan:
Senin Abu Lahab: Ketika Kebahagiaan Menyambut Maulid Berbuah Keringanan

Ringkasan Senin Abu Lahab: Ketika Kebahagiaan Menyambut Maulid Berbuah Keringanan

Artikel ini mengulas narasi klasik tentang Abu Lahab yang mendapatkan keringanan siksa di hari Senin karena kegembiraannya menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW. Melalui kesaksian Abbas bin Abdul Muthalib, pembaca diajak merenungkan makna kasih sayang dan kebahagiaan universal atas lahirnya sosok pembawa risalah, meski di tengah perbedaan keyakinan yang tajam.

Abu Lahab melakukannya murni sebagai manusia yang yang mengekspresikan kebahagiaan universal ketika salah satu dari keluarganya ada yang mendapat nikmat (lahirnya Muhammad).

Bukan tanggal kembar yang dinantikan umat Muslim, melainkan kedatangan bulan kelahiran manusia mulia, bulan Rabiulawal, atau yang kerap dikenal bulan Maulid.

Ada sebuah narasi klasik tentang Abu Lahab, figur antagonis dalam sejarah Islam. Abu Lahab menyambut dengan bahagia ketika kelahiran keponakannya, Muhammad bin Abdullah.Seorang putra dari adiknya, Abdullah dan Siti Aminah. Pada hari senin, begitu mendengar kabar bahagia tersebut, Abu Lahab langsung memerdekakan budak perempuannya yang bernama Tsuwaibah.

Namun, ketika Muhammad tumbuh dewasa dan menyebarkan ajaran Islam sebagai seorang nabi, Abu Lahab justru menjadi tokoh utama penentang dakwah. Ia begitu keji memusuhi Nabi Muhammad, hingga namanya diabadikan dalam Al-Qur’an melalui  Surah Al-Lahab. Kekafirannya tidak pernah luntur. Ia masih setia menyembah berhala hingga menghembuskan napas terakhirnya.

Kisah ini diceritakan oleh Abbas bin Abdul Muthalib, paman dari Nabi Muhammad. Dalam sebuah mimpi, Abbas bertemu dengan Abu Lahab dan bertanya “Bagaimana keadaanmu?”.

Abu Lahab menjawab “Seperti yang engkau lihat saat ini, siksaan yang tiada henti setiap hari. Kecuali pada hari Senin, Allah meringankan siksaku, karena aku ikut menyambut dengan bahagia kelahiran Muhammad bin Abdullah”.

Narasi klasik ini mengajak kita untuk merenung, jika kepada penentang utama dakwah Nabi Muhammad saja Allah tidak melupakan kebaikan kecilnya, lantas bagaimana mungkin kita meragukan kasih sayang dan keadilan-Nya ?

Keadilan Tuhan

Keadilan Tuhan sering kali tidak dapat dijangkau oleh kalkulasi akal manusia. Kisah Abu Lahab yang mendapatkan keringanan siksa setiap hari Senin karena merasa pernah bahagia menyambut kelahiran Nabi Muhammad adalah cermin teologis yang unik. Secara teologis, fenomena ini memperlihatkan bahwa Tuhan tidak pernah melupakan kebaikan siapapun, bahkan sekecil dharrah pun akan tetap mendapatkan balasan dari-Nya.

Abu Lahab tetap menanggung hukuman atas penolakannya terhadap risalah kebenaran Nabi. Namun di saat yang sama, rasa bahagianya atas kelahiran Muhammad menjadi “voucher diskon” atas siksanya setiap hari Senin.

Keadilan-Nya bekerja secara mutlak. Keburukan seseorang tidak menghapus apresiasi Tuhan atas momen kebaikan yang pernah ada. Dalam perspektif Tuhan, tidak ada kebaikan yang menguap tanpa jejak.

Baca juga: Peringatan Maulid Nabi, Sarana Berukhuwah dengan Cinta

Rahmat Nabi Muhammad

Kehadiran Nabi Muhammad adalah rahmat bagi alam semesta (raḥmatan lil-‘ālamīn). Kisah ini merepresentasikan betapa dahsyatnya pusaran rahmat sang Nabi.

Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah bukan atas dasar iman atau dakwah- karena kala itu Muhammad belum diangkat menjadi nabi. Abu Lahab melakukannya murni sebagai manusia yang yang mengekspresikan kebahagiaan universal ketika salah satu dari keluarganya ada yang mendapat nikmat (lahirnya Muhammad).

Pelajaran terpentingnya adalah jika rasa bahagia oleh seorang penentang atas hadirnya Nabi Muhammad saja mampu meringankan azab, sungguh tidak logis jika kita menganggap kebaikan-kebaikan yang kita lakukan menguap begitu saja.

Pada akhirnya, kisah Abu Lahab bukan sekadar lembaran sejarah klasik tentang seorang penentang dakwah, melainkan sebuah cermin teologis yang jernih. Kisah ini menegaskan bahwa di hadapan Tuhan yang maha adil, tidak ada kebaikan yang terlalu kecil untuk dihargai. Teruslah berbuat baik tanpa menghitung skala dan tanpa mencemaskan balasan manusia, sebab kebaikan yang tulus tak pernah hilang begitu saja tanpa bekas.

Baca juga: Maulid Nabi Saw (4): Mengapa Kita Merayakan Maulid Nabi?

Pertanyaan Seputar Topik Ini

Mengapa Abu Lahab mendapatkan keringanan siksa di hari Senin?
Menurut riwayat yang disampaikan Abbas bin Abdul Muthalib, Abu Lahab mendapatkan keringanan karena pernah memerdekakan budaknya, Tsuwaibah, sebagai bentuk ekspresi kebahagiaan atas kelahiran keponakannya, Muhammad bin Abdullah.
Apakah kisah Abu Lahab ini membenarkan kekafirannya?
Tidak. Kisah ini merupakan narasi klasik untuk menunjukkan besarnya kedudukan Nabi Muhammad SAW, sehingga ekspresi kebahagiaan atas kelahirannya pun memiliki dampak spiritual, meskipun Abu Lahab tetap dalam kekafirannya hingga akhir hayat.
Siapa yang menceritakan kondisi Abu Lahab di alam barzakh?
Kondisi Abu Lahab di alam barzakh diceritakan oleh Abbas bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW, melalui sebuah mimpi yang dialaminya setelah Abu Lahab wafat.
Apa pelajaran utama dari kisah Abu Lahab dan Maulid Nabi?
Pelajaran utamanya adalah tentang keagungan sosok Nabi Muhammad SAW yang kehadirannya membawa rahmat bagi semesta, bahkan bagi mereka yang memusuhi dakwahnya sekalipun.

Dukung Kanal Suara Muslim Muda

Suka dengan konten kami? Dukung terus Tsaqafah.id untuk memproduksi konten literasi Muslim yang mencerahkan.

Mulai Berdonasi
Bagikan Artikel Ini