Soal Aksi Terorisme, Gus Yahya Minta Umat Islam Waspadai Seruan yang Mendorong Segregasi Kelompok

Menurut Gus Yahya, radikalisme dan terorisme adalah benalu peradaban. Aksi ini jelas menghisap nutrisi dari peradaban untuk membesarkan dirinya dan melemahkan peradaban itu sendiri.

Tsaqafah.id – Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Yahya Cholil Staquf menyatakan belasungkawa dan prihatin terhadap peristiwa aksi bom bunuh diri saat ibadah misa Minggu Palma di depan Gereja Katedral, Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu (28/3).

“Kejahatan semacam ini hanya mungkin dilakukan oleh mereka yang telah membuang semua naluri kemanusiaan dari dalam dirinya,” tukas Katib Aam PBNU Gus Yahya melalui pernyataan resminya.

Menurut Gus Yahya, radikalisme dan terorisme adalah benalu peradaban. Aksi ini jelas menghisap nutrisi dari peradaban untuk membesarkan dirinya dan melemahkan peradaban itu sendiri.

Bahkan aksi ini mengembangkan lingkungan industri (industrial environment) mereka sendiri.

“Membangun branding mulai dari gaya hidup, fashion, ikon-ikon sosial, sampai dengan kantong-kantong komunitas dengan lapis-lapis spektrum yang pada akhirnya membentuk kelompok inti terdiri atas orang-orang yang siap menjalankan aksi teror,” ungkap Gus Yahya.

Baca Juga: Melawan Aksi Teror dengan Menolak Takut

Kata kunci untuk memuluskan niat mereka melakukan teror, menurut Gus Yahya adalah segregasi atau pemisahan kelompok.

Untuk itu, dia mengingatkan semua golongan, khususnya umat Islam, untuk terus mewaspadai seruan-seruan yang mendorong segregasi kelompok. Sebab disadari atau tidak, hal itu  berpotensi menggiring ke arah faham radikal dan gerakan teroris. 

Menyitir al-Qur’an Surah Ar Rum (30) ayat 31-32;

. . . class="has-text-align-right">مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَلا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (31) مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ (32)

“… Janganlah kalian termasuk di antara orang-orang musyrik, (yaitu) di antara orang-orang yang memecah-belah agama (kolektivitas) mereka, setiap kelompok berbangga diri dengan apa yang ada pada diri masing-masing,” demikian kata Gus Yahya menyitir ayat tersebut. 

Gus Yahya menegaskan bahwa sikap segregatif dan eksklusifitas kelompok tidak boleh dibiarkan berlanjut. 

Baca Juga: Survei INFID dan Gusdurian: Anak Muda Makin Toleran Tapi Juga Gamang

Untuk itu, Gus Yahya mengajak semua elemen bangsa untuk terus merawat kolektivitas universal umat manusia demi perdamaian, harmoni sosial dan keselamatan peradaban.

Selanjutnya, benalu peradaban juga harus dikikis dari akar-akarnya, yaitu pola pikir (mindset) segregatif dan apa pun yang dianggap sebagai rujukan ajaran untuk membenarkan pola pikir itu.  

“Di titik inilah rekontekstualisasi wawasan keagamaan mutlak diperlukan,” tandasnya.

Katib Aam juga mengingatkan kepada semua pihak bahwa ancaman radikalisme dan terorisme adalah masalah bersama yang harus dihadapi dan dilawan bersama. Langkah awal adalah dengan memperkuat kohesivitas sosial dan mengukuhkan tertib hukum. 

“Karena tertib hukum adalah kerangka utama bagi tertib sosial yang menjadi landasan kohesivitas,” ujar Katib Aam PBNU terkait aksi bom bunuh diri di Gereja Katedral Makassar. (AQ)

Total
1
Shares
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Previous Article
toleransi

Survei INFID dan Gusdurian: Anak Muda Makin Toleran Tapi Juga Gamang

Next Article

Bisakah Kita Melerai Kekerasan dari Islam?

Related Posts