Skip to content
Tsaqafah.id Suara Muslim Muda
Ikuti Kami

© 2026 Tsaqafah.id

Tsaqatalk
Beranda/Tsaqatalk/TSAQATALK #8: Berapapun Gajimu, Mulailah Investasi!

TSAQATALK #8: Berapapun Gajimu, Mulailah Investasi!

406 Kali Dibaca
Bagikan:
TSAQATALK #8: Berapapun Gajimu, Mulailah Investasi!

Siapa yang tidak tau Kaluna? Gen Z, sandwich generation, plus batu pondasi keluarga di film Home Sweet Loan. Gaji 6 juta, hidup di ibukota, tabungan 300 juta, dan punya mimpi beli rumah. Nah kalau yang gajinya UMR 2 juta bisa gak si punya investasi dan tabungan segitu? Manakah yang lebih utama, nabung atau investasi?

Tsaqafah.id – Siapa yang tidak tau Kaluna? Gen Z, sandwich generation, plus batu pondasi keluarga di film Home Sweet Loan. Gaji 6 juta, hidup di ibukota, tabungan 300 juta, dan punya mimpi beli rumah. Nah kalau yang gajinya UMR 2 juta bisa gak si punya investasi dan tabungan segitu? Manakah yang lebih utama, nabung atau investasi?

Nah pada Tsaqatalk #8 ini khusus ngebahas tentang persoalan finansial di atas. Dengan mengambil tema, Hacking Financial Ala Gen Z: Ngopi Sambil Nabung? Bisa Yuk!, Tsaqatalk kali ini mendatangkan Desi Wahyuni, S.E.,M.M.,CES. dari Phintraco Sekuritas dan dipandu oleh host Umi Nurchayati.

Berbicara tentang finansial di kalangan anak muda tidak terlepas dari trend investasi yang semakin kesini semakin diminati. Minat generasi muda terhadap investasi semakin meningkat belakangan ini. Menurut data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sekitar 60% investor di pasar modal Indonesia berasal dari kalangan milenial dan Gen Z. Hal ini menunjukkan tren positif, di mana lebih dari 50% akun investasi di pasar modal didominasi oleh anak muda dengan rata-rata usia di bawah 30 tahun. 

Studi juga menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan paling rendah terdapat pada usia 15-17 tahun, yaitu remaja SMA. kemudian usia 50-70 tahunan di tingkat kedua. Sementara itu, kelompok usia 20-25 tahun sudah mulai aktif berinvestasi, dan puncaknya terjadi pada usia 26-35 tahun, saat mereka mulai bekerja.

Meskipun demikian, apakah tingkat literasi finansial di Indonesia ini sudah cukup baik? sayangnya, di balik peningkatan minat investasi, tantangan terbesar adalah literasi keuangan yang masih rendah di kalangan milenial dan Gen Z. Saat ini, semua kalangan, dari muda hingga tua, bisa dengan mudah mengakses media sosial. Namun, banyak anak muda, mulai dari SMP hingga mahasiswa, belum memanfaatkan platform ini secara maksimal. Kebanyakan penggunaan media sosial masih sebatas untuk hiburan, mengikuti tren terbaru, tetapi sayangnya, tren di bidang literasi keuangan seringkali terabaikan.

Baca juga How to Become More Financially Literate for Younger Generations?

“Banyak influencer dan tokoh yang aktif memberikan edukasi literasi keuangan, namun minat anak muda belum sepenuhnya terarah ke sana. Tetapi ketertarikannya masih belum ke situ. Belum yang benar-benar ingin memahami dan memanfaatkan sosial media untuk itu (literasi keuangan),” ucap Kak Desi.

Membincangkan finansial dan Gen Z, tentu tidak terlepas dari isu kesehatan mental yang masih menjadi tantangan generasi sekarang. Untuk mencapai work life balance, sering kali dikaitkan dengan healing dan self reward, akibatnya, kesehatan keuangan jadi terancam. Lalu bagaimana menghadapi hal ini?

Kak Desi menjelaskan tentang pentingnya membuat budgeting. Sekarang semuanya serba FOMO, self-reward, dan healing untuk kesehatan mental. Sebenarnya, semua itu bisa dilakukan asalkan kita mengelola keuangan dengan bijak melalui budgeting. Sebelum fokus pada keinginan, penting untuk memikirkan dana darurat dan investasi, terutama untuk menghadapi situasi tak terduga seperti sakit atau kiriman uang yang terlambat. Setelah kebutuhan pokok terpenuhi, barulah kita bisa merencanakan pos keuangan untuk hal seperti liburan atau self-reward. Dengan begitu, semuanya terencana tanpa harus mengorbankan kebutuhan pokok di akhir bulan.

“Misalkan kalau mau liburan tahun depan uangnya mulai disisipkan dari sekarang. Jadi tidak yang tiba-tiba gitu. Pas di akhir bulan malah makan indomie dan minum promag. Jadi kita utamakan kebutuhan pokok baru keinginan,” tutur Kak Desi.

Pay Later atau Pinjol, Boleh Gak Si?

Siapa di sini yang pernah punya keinginan untuk beli tiket konser, tapi menggunakan dana pinjaman online atau pay later? Hayo ngaku! Nah boleh gak si kita menggunakan dana dari pinjaman atau kredit untuk hal-hal seperti itu?

Pay later boleh atau tidak tergantung kebutuhan atau hanya sekedar keinginan atau memenuhi gaya hidup saja. Kalau digunakan untuk kebutuhan, bunganya tidak tinggi, dan legal ya tentu boleh-boleh saja. Tetapi jika penggunaan dana ini untuk hal-hal yang bersifat konsumtif jangan dulu deh! 

Kalau kita punya cicilan, usahakan maksimal 30 persen dari pendapatan per bulan. Kalau lebih dari itu, berarti keuangan kita dianggap tidak sehat. Selain itu, penting untuk mempertimbangkan jangka waktu pinjamannya dan berbanding lurus tidak dengan bunganya. Kak Desi memberikan saran kalau hanya memenuhi gaya hidup, jangan menggunakan pay later atau pinjol. Lebih baik kita melakukan persiapan dengan menabung jauh-jauh hari. 

Baca juga Labubu Viral? Fenomena FoMO yang Tersembunyi

“Kalau belum cukup bagaimana? Lebih baik menabung semaksimal mungkin. Kalau sudah mampu ya beli tiket konsernya, tapi kalau belum mampu ya tunda dulu deh! Jangan cuma karena fomo atau tidak update,” saran Kak Desi untuk Tsaqafriend.

Investasi atau Nabung, Mana yang Lebih Utama?

Bingung kan? Nah Kak Desi memberikan tips penting nih. Tanpa perlu bingung, kita bisa melakukan keduanya sekaligus. Bagaimana caranya? Setiap bulan kita bisa menyisihkan pendapatan untuk ditabung. Uang yang sudah masuk ke tabungan ini bisa kita bagi ke beberapa pos, misalkan untuk dana darurat dan investasi. Ketika memulai investasi, kita juga perlu mempertimbangkan risikonya, apakah tinggi atau rendah.

Dilihat dari risikonya, ada berbagai pilihan investasi. Paling rendah ada deposito, di mana kita “mengistirahatkan” uang dengan bunga kecil, tapi risikonya rendah. Lalu, ada reksadana pasar uang, obligasi, hingga saham. Saham memiliki risiko paling tinggi, tapi juga reward yang besar. Kita dapat memulai berinvestasi dengan menyisihkan Rp100-200 ribu setiap bulan, kemudian membeli saham, terutama saham dari perusahaan besar yang sudah lama eksis di Bursa Efek Indonesia dan profitable, seperti sektor perbankan. Pilih investasi sesuai dengan toleransi risiko kita—risiko rendah, pendapatan juga rendah, dan sebaliknya.

Nah bagi kamu yang gajinya masih UMR 2 juta, apa bisa investasi gitu? Atau bahkan nabung 300 juta seperti Kaluna?

Bisa dong. Jadi jangan melihat dari nilai UMR saja, tetapi melihat berdasarkan kebutuhan. Kita bisa sisihkan 10-20 persen dari UMR 2 juta untuk beli saham dengan harga di bawah Rp 1000. Selain saham, kita bisa investasi emas, karena harganya yang naik. Saran dari Kak Desi jangan beli emas yang berupa perhiasan, karena ada potongan admin, dan biaya lainnya. Jadi belilah emas batangan saja, Tsaqafriend bisa terus pantau harganya. Jadi dengan gaji berapa saja,  kita bisa melakukan investasi, terpenting kita melakukan budgeting dengan mempertimbangkan kebutuhan pokok terlebih dahulu.

Bagaimana Tsaqafriend, siap berinvestasi dan ikuti jejak Kaluna ?

Baca juga Hidup Dihantui Anxiety, What’s Wrong With Me?

Bagikan Artikel Ini