Mengenal Konsep Kepribadian Menurut Imam Al-Ghazali

Mengenal Konsep Kepribadian Menurut Imam Al-Ghazali

09 April 2023
877 dilihat
3 menits, 21 detik

Tsaqafah.id – Senang rasanya bisa mengetahui kepribadian orang lain dengan melihat tingkah lakunya saja. Karena dengan hal tersebut, akhirnya kita dapat mengetahui tindakan apa yang akan kita ambil untuk berinteraksi dengan orang tersebut.

Saya sepakat, namun berbicara tentang kepribadian tentu tidak semudah membalikan tangan. Ya, walaupun keliatannya mudah, namun banyak hal yang perlu kita pelajari untuk benar-benar mengetahui kepribadian seseorang.

Salah satu disiplin ilmu yang mengkaji tentang kepribadian manusia adalah psikologi kepribadian. Dalam disiplin ilmu tersebut kita belajar banyak hal tentang konsep kepribadian. Mulai dari perilaku, habit, gagasan, pola pikir dan semuanya yang berkaitan dengan kepribadian individu.

Belajar tentang kepribadian mungkin banyak orang yang lebih mengarah ke teori-teori barat. Namun, sebenarnya ada banyak gagasan pemikiran Timur Tengah yang memberikan sumbangsih tentang pengetahuan kepribadian. Salah satunya adalah Imam Al-Ghazali.

Baca Juga:

Tentu banyak pertanyaan yang timbul di pikiran kita, Bagaimana Imam Al-Ghazali memandang kepribadian manusia? dan Bagaimana konsep kepribadian menurut Imam Al-Ghazali?

Hal ini menjadi sangat menarik karena kita mengenal dan mengkaji sebuah pemikiran dari salah satu tokoh Muslim yang sangat berpengaruh di dunia Islam. Mari coba kita mengenal dan mengkaji pemikiran sosok Hujjatul Islam.

Konsep Kepribadian Menurut Al-Ghazali

Dalam kitabnya—Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali mengatakan bahwa kepribadian seseorang adalah sebuah perangai, watak, atau tabiat yang tanpa sadar dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber perilaku yang dilakukan dirinya dalam kehidupan sehari-hari.

Ada dua bagian penting yang perlu kita garis bawahi dari konsep kepribadian menurut Imam Al-Ghazali yaitu kesesuaian dan ketidaksadaran. Kesesuaian maksudnya adalah individu melakukan perilaku yang berkelanjutan atau berkesinambungan dengan perilakunya sebelumnya. sedangkan ketidaksadaran adalah perilaku individu yang dilakukan secara spontan atau tidak sadar dan tanpa perlu dipikirkan karena telah menjadi sebuah tabiat.

Baca Juga:

Ada beberapa bagian yang menjadi pusat kajian Imam Al-Ghazali tentang kepribadian manusia yang meliputi al-jasad, al-ruh dan al-nafs. Dalam tulisan singkat kali ini kita akan coba mengenal bahasan tentang nafs terlebih dahulu.

Nafs dapat diartikan dengan jiwa atau dalam istilah psikologi dikenal dengan psyche. Dalam istilah tasawuf, nafs dikenal dengan nafsu. Setiap manusia tentu memiliki nafsu yang menjadi penggerak bagi manusia untuk melakukan banyak hal di luar konteks yang dilakukan baik ataupun buruk. Menurut Imam Al-Ghazali nafs atau nafsu dibedakan menjadi beberapa tingkatan, diantaranya:

Al-nafs al-ammarah

Nafsu ini diartikan dengan nafsu yang mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang buruk. Keburukan dari perilaku yang dilakukan tentu melanggar apa-apa yang dilarang oleh Allah SWT dan tidak sejalan dengan anjuran Nabi Muhammad SAW. Dorongan hawa nafs ammarah menjadikan manusia berperilaku menyimpang dari norma-norma sosial juga.

Contohnya, seperti tamak yaitu perilaku merasa tidak puas dengan apa yang dimiliki, sehingga melakukan cara-cara licik untuk mendapatkan sesuatu. Riya, perilaku yang mendorong seseorang untuk membanggakan dirinya sendiri dengan memperlihatkan kelebihan yang dimilikinya, ya walaupun yang dilakukan adalah kebaikan atau ibadah.

Berzina, perilaku ini bersumuber dari nafs ammarah karena zina adalah perilaku yang sangat menyimpang dari norma agama dan norma sosial, sehingga pelakunya akan mendapatkan punishment atas apa yang telah ia lakukan.

Baca Juga

Al-nafs al-lawwamah

Al-nafs al-lawwamah dapat diartikan dengan ketenangan individu yang belum sempurna. Ketidaksempurnaan tersebut bersumber dari individu yang masih kebobolan untuk melakukan perbuatan yang melanggar syariat. Nafsu lawwamah menjadikan individu berpikir lebih rasional dan mengarahkan kepada kebaikan, namun tidak menutup kemungkinan hawa nafsu tetap menjadi daya tarik untuk melakukan keburukan.

Individu melakukan kebaikan seperti sholat, puasa, sedekah dan lain sebagainya. Namun, tidak jarang individu juga sering terjerumus kepada hal-hal yang buruk secara sadar ataupun tidak. Namun, dengan nafs lawwamah individu diarahkan untuk menyadari hingga bertaubat atas perilaku buruk yang ia lakukan.

Al-nafs al-muthmainah

Nafs al-muthmainah adalah tingkatan terakhir dari nafs menurut Imam Al-Ghazali. Nafs ini merupakan tingkatan tertinggi dari klasifikasi nafsu menurut Imam Al-Ghazali. Pada tingkatan ini individu telah memiliki jiwa yang lembut dan suci serta penuh akan kecintaan kepada Allah SWT. Individu dengan tingkatan ini benar-benar adalah seorang yang dekat dengan Allah SWT.

Baca Juga Ahli Surga Tidak Memandang Wajah

Tidak banyak orang yang sampai pada tingkatan ini, apalagi melihat manusia adalah tempat dari kesalahan. Namun, bukan berarti tidak mungkin. Tingkatan nafs al-muthmainah tentu merupakan kerahasiaan antara individu dan Tuhannya.

Strata nafs kepribadian yang disampaikan Imam Al-Ghazali menjadi gambaran besar bagi kita untuk menentukan bahwa kita termasuk dalam kategori nafs yang mana—nafs ammarah, nafs lawwamah, ataukah nafs muthmainah. Tentu yang dapat menentukan adalah diri kita sendiri.

Imam Ghazali juga mengajarkan bahwa nafs bukanlah hal yang mengikat, tetapi nafs adalah sesuatu yang dapat kita arahkan dan kendalikan, sehingga kita dapat mengarahkan dan mengendalikannya untuk menuju hal-hal yang baik.

Profil Penulis
Mohamad Rozkit Bouti
Mohamad Rozkit Bouti
Penulis Tsaqafah.id
Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2 Artikel

SELENGKAPNYA