Merawat Persatuan: Jihad Santri Masa Kini

Merawat Persatuan: Jihad Santri Masa Kini

30 Oktober 2025
161 dilihat
2 menits, 35 detik

…pada waktu itu bangsa Indonesia tengah dihadapkan dengan kelompok-kelompok yang anti Pancasila, seolah Pancasila tidak sesuai dengan Islam.

Tsaqafah.id – Perayaan hari santri tahun ini menjadi alarm pentingnya merawat persatuan bangsa Indonesia yang telah dibangun, dijaga, dan diteguhkan oleh para ulama terdahulu.

Dalam beberapa waktu ke belakang teramat banyak narasi yang mengarah pada perpecahan bangsa, seperti polemik nasab, perselingkuhan ormas dan parpol, antek Yahudi, warung Madura, klan Jawir, dan yang terhangat mengenai siaran TV yang mendiskreditkan pesantren dengan stigma-stigma yang tidak tepat.

Kondisi atau narasi-narasi itu memang memiliki domain dan cara kerjanya tersendiri, tetapi semua itu tampak jelas mengarah pada event adu domba bangsa (oleh oknum tertentu) yang memainkan simbol agama, ras, suku, dan bangsa.

Kondisi ini diperparah dengan daya fantasmagoria media, di mana emosi bereaksi super lebih cepat daripada berpikir terlebih dahulu. Sehingga media pun banjir ujaran kebencian, penghakiman sepihak, dan saling serang yang didukung paparan fyp.

Baca juga Menjadi Santri di Era Post-Trans7

Sebelum melangkah lebih jauh, saya sebagai santri juga pernah termakan fitnah yang memframing hubungan Gus Dur dan Mbah Maimun Zubair seolah bertolak belakang alias tidak harmonis. Itu tentu kesalahan saya karena mabuk fyp dan larut dalam daya magis media sebagaimana telah saya singgung.

Padahal, sesudah saya telisik dan menyimak pelbagai rekaman pengajian Mbah Maimun terutama ketika Mbah Maimun menghadiri haul Gus Dur, fitnah tadi tidaklah benar. Justru ada kedekatan emosional, kekerabatan, spiritual, dan keharmonisan antara Gus Dur dengan Mbah Maimun. Sekali lagi, hari ini upaya untuk memecah bangsa terutama di kalangan santri sendiri begitu mudah.

Karena itulah, hari santri tahun ini menjadi alarm atau lebih tepatnya peringatan untuk terus waspada akan potensi adu domba. Terkait problem semacam ini, KH. Salahuddin Wahid atau akrab dipanggil Gus Sholah dalam bukunya, ‘Gus Sholah kembali ke Pesantren’ menjelaskan bahwa bangsa Indonesia hari ini masih rawan terpecah belah.

Terutama pada waktu itu bangsa Indonesia tengah dihadapkan dengan kelompok-kelompok yang anti Pancasila, seolah Pancasila tidak sesuai dengan Islam.

Menanggapi persoalan itu, Gus Sholah berjuang keras dalam merawat persatuan bangsa, baik secara teoretis yang terangkum dalam gagasannya “memadukan keindonesiaan dan keislaman” dan secara praktis seperti laku dan sikap egaliter beliau.

Baca juga Perjalanan yang tak Melulu Kita Pahami

Dalam wilayah teoretis, Gus Sholah selalu berkiblat pada ajaran KH. Hasyim Asy’ari yang sangat mewanti-wanti akan perpecahan bangsa. Gus Sholah dalam bukunya Menjaga Warisan KH Hasyim Asy’ari menceritakan bahwa sewaktu KH. Hasyim Asy’ari menjadi ketua Majelis Syuro Partai Masyumi, beliau selalu mengemukakan di dalam berbagai forum agar umat Islam di Indonesia bersatu, jangan sampai terjadi perpecahan.

Bahkan pada saat KH. Hasyim Asy’ari diminta untuk menyatakan berdirinya NU dan memimpinnya, beliau khawatir berdirinya NU justru akan membuat umat Islam di wilayah Hindia-Belanda menjadi semakin terkotak-kotak.

Benang merah dari penuturan Gus Sholah dan kisah kakek beliau itu adalah persatuan bangsa. Sebagaimana sudah penulis singgung di muka, kondisi hari lebih parah dari kondisi zaman dahulu. Problematika hari ini terjadi bukan hanya oleh faktor luar seperti mereka yang anti Pancasila, tetapi juga oleh pihak-pihak yang menginginkan perpecahan Indonesia dengan memainkan media.

Oleh sebab itu, tidak berlebihan apabila merawat persatuan menjadi jihad santri masa kini. Apabila para santri tidak menganggap problem perpecahan bangsa ini sebagai sesuatu yang serius, maka kita tidak lagi mengikuti ajaran dan tingkah laku luhur para pendahulu kita.

Dan jika para santri sibuk dan luput akan wejangan dan ajaran itu, bukan tidak mungkin kita sendirilah yang menjadi penyebab perpecahan bangsa. Mudah-mudahan hari santri tahun ini, Tuhan memberikan hidayah untuk kita semua semoga dibukakan hatinya untuk saling merangkul dan mengedepankan nalar kebersamaan. Selamat Hari Santri 2025!

Baca juga Pesantren dan Tuduhan Feodalisme: Antara Tradisi, Otoritas Ilmiah, dan Tanggung Jawab Moral

Profil Penulis
Mohamad Zain Fiqron
Mohamad Zain Fiqron
Penulis Tsaqafah.id
Mohamad Za'in Fiqron, asal dan sekarang tinggal Kudus, alumnus Madrasah Qudsiyyah Kudus, berminat pada topik-topik keislaman dan kemanusiaan. Saya aktif di media sosial Instagram @zain_fikron

1 Artikel

SELENGKAPNYA