Skip to content
Tsaqafah.id Suara Muslim Muda
Ikuti Kami

© 2026 Tsaqafah.id

Kolom
Beranda/Kolom/Heboh Santri Menutup Telinga dari Suara Musik, Bagaimana Sikap Kita ?

Heboh Santri Menutup Telinga dari Suara Musik, Bagaimana Sikap Kita ?

575 Kali Dibaca
Bagikan:
Heboh Santri Menutup Telinga dari Suara Musik, Bagaimana Sikap Kita ?

Tsaqafah.id Beberapa hari ini jagad media sosial kita diramaikan oleh video para santri yang menutup telinga ketika antri vaksinasi, dimana di tempat vaksinasi juga sedang diputar alunan suara musik. Video tersebut diunggah oleh salah satu politisi yaitu Diaz Hendropriyono di akun Instagram pribadinya pada 13/9/2021.

Diaz menuliskan caption yang menyatakan kasihan kepada para santri karena dari kecil sudah menerima didikan yang salah. Sontak video tersebut langsung ramai dan banyak direpost oleh akun lain. Berbagai komentar membanjiri video itu, ada yang senada dengan pernyataan Diaz, banyak pula yang menentangnya.

Beberapa tokoh juga turut memberikan komentar, salah-satunya datang dari Mbak Yenny Wahid. Dalam postingan di akun Instagramnya beliau menyatakan dua poin penting mengomentari video yang ramai beredar itu, yakni; pertama, Mbak Yenny menyatakan senang karena para guru mengatur para santrinya agar mengikuti vaksinasi, mereka bukan saja melindungi dirinya tapi juga orang-orang di sekitarnya dari Covid-19. 

Kedua, dalam pandangan Mbak Yenny menghafal Alquran bukan hal yang mudah. Beliau menyitir salah satu temannya yaitu Gus Fatir dari Pesantren Alkenaniyah, bahwa memang dibutuhkan suasana tenang dan hening agar lebih bisa berkonsentrasi dalam menghafal Alquran. Jadi kalau anak-anak ini oleh gurunya diprioritaskan untuk fokus pada penghafalan Qur’an dan diminta untuk tidak mendengar musik, itu bukanlah indikator bahwa mereka radikal. Yuk kita lebih proporsional dalam menilai orang lain, janganlah kita dengan gampang memberi cap seseorang itu radikal, kafir, dll, pungkasnya.

Baca juga; Mengintip Santri Huffadh yang Kegandrung Drama Korea “Start-Up”

Senada dengan hal tersebut, Prof. Nadirsyah Hosen juga menyatakan, “Justru disana terlihat toleransi ustadz dan santri untuk memilih menutup telinga & menjaga diri ketimbang memaksakan paham mereka dengan cara kekerasan. Bukankah esensi toleransi ada di sana? Jadi jangan buru-buru mengaitkan mereka dengan paham Islam garis keras hanya karena mereka berbeda pemahaman”, ungkapnya dalam akun Twitter pribadinya pada 14/9/2021.

Begitu juga disampaikan oleh Ketua PP Muhammadiyah, Prof. DR. Dadang Kahmad MSI, dikutip dari Republika.co.id, ia menyebut, “Seharusnya orang yang ingin berdemokrasi sudah terbiasa dengan perbedaan pendapat.”

Dari dulu hukum musik memang sudah diperdebatkan oleh para ulama, tak heran sampai saat ini berbagai persepsi musik masih terjadi dalam tubuh umat islam sendiri. Karena, baik pada yang mengatakan musik itu boleh dan tidak sama-sama memiliki pijakan nash. Saya tidak akan membahas hukum musik dari awal disini, teman-teman bisa mencarinya di google karena banyak sekali yang sudah membahasnya.

Salah-satu yang saya ingat adalah perkataan Mufasir dan ulama kenamaan Indonesia Prof. Quraish Shihab, dimana beliau pernah membahas hukum musik dalam siaran Shihab & Shihab pada Desember 2018 lalu. Bersama putrinya, Najwa Shihab, siaran itu mengundang salah satu bintang tamu, seorang musisi beken yaitu Tantri Kotak. Di segmen itulah Tantri bertanya tentang hukum musik dan diuraikan oleh Abi Quraish, panggilan akrab beliau.

Menurut Abi Quraish Shihab, sebenarnya kesenian itu merupakan hal yang sangat disukai Allah. Pada dasarnya, kata Abi Quraish, Tuhan menciptakan manusia untuk membangun bumi ini, yang artinya membangun peradaban. Dimana dibutuhkan 3 unsur pokok untuk membangun peradaban. Yakni yang kebenaran, kebaikan, dan keindahan.

“Mencari yang benar itu menghasilkan ilmu, mencari yang baik menghasilkan moral, mencari yang indah menghasilkan seni. Jadi tugas kita mengembangkan seni sesuai dengan petunjuk-petunjuk Tuhan,” katanya.

Bagi Quraish Shihab, Islam itu pada dasarnya sangat menghargai seni dalam segala bentuknya. Akan tetapi, Islam tentu memberi tuntutan, supaya kita tidak melanggar dan menyeleweng. Agama kata beliau, mengingatkan agar jangan sampai seni itu justru mengantar manusia pada sesuatu yang buruk.

“Islam itu agama fitrah, bawaan manusia, semua manusia kita tahu menyenangi keindahan, tetapi jangan sampai karena keindahan yang didengarnya sampai menyimpang dari fitrahnya,” ungkap Abi Quraish.

Lebih jauh, Quraish Shihab punya pandangan jernih apakah musik haram atau sebaliknya. Menurut dia, musik jika diartikan secara sederhana, adalah suara yang berirama. Suara yang berirama ini bisa lahir tanpa alat, bisa juga disertai oleh alat.

Kalau tanpa alat, seperti halnya orang yang membaca Alquran. Terkait hal ini, bagaimana mungkin musik dilarang. “Kalau musik dilarang berarti manusia juga dilarang untuk memperindah dalam membaca Al Quran. Yang dilarang itu penggunaannya kalau mengantar orang pada keburukan,” terang Abi Quraish.

Dalam kalimat terakhirnya itu, perkataan Abi menjadi poinnya. Yakni apabila penggunaannya (dalam hal ini) musik mengantarkan kepada keburukan. 

Baca juga; Dear Sobatku Muslimah Bercadar, Kalian Tuh Wanita Penyabar dan Layak Dihormati

Mungkin saat ini kita bisa menikmati musik dengan bebas, justru terkadang kita memerlukan musik untuk membangun suasana hati, konsentrasi, dan menemani dalam keceriaan. Namun ada kalanya juga kita membutuhkan waktu untuk menyepi tanpa terganggu suara apapun, yaitu ketika ingin berkonsentrasi pada suatu hal yang menyita pikiran. 

Disinilah kita bisa memahami, seperti yang disampaikan oleh Mbak Yenny bahwa menghafal Alquran membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi. Jikalau musik bagi para santri dan guru bisa menurunkan semangat menghafal, ya sah-sah saja kalau akhirnya mereka memilih menutup telinga.

Seperti diungkap Prof. Nadhir dan Prof.Dadang bahwa dalam berdemokrasi dan bertoleransi seharusnya kita sudah paham tentang perbedaan-perbedaan pendapat. Terlepas dari hukum fikih dimana ada yang membolehkan dan mengharamkan yang keduanya sama-sama berpijak pada dalil yang kuat. Maka memilih untuk mendengarkan musik atau tidak adalah hal yang biasa. Semua orang bisa menentukannya sendiri secara sadar, apakah nantinya musik akan mengganggu atau justru bagus untuk menambah produktivitas.

Baca juga; Kewajiban Belajar, Latihan Berekspresi, dan Ancaman Menjadi Sotoy

Bagikan Artikel Ini
Tags:#musik
Umi Nurchayati

Ditulis oleh: Umi Nurchayati

Penulis aktif di Tsaqafah.id yang membagikan pemikiran dan gagasan tentang Islam ramah untuk anak muda.

Lihat Semua Tulisan

Satu tanggapan untuk “Heboh Santri Menutup Telinga dari Suara Musik, Bagaimana Sikap Kita ?”